
Awal tahun 2026 ini Indonesia mengawalinya dengan pesan-pesan resmi dalam acara Pernyataan Pers Tahunan Kementerian Luar Negeri (Rabu, 14/1/2026). Sebuah tonggak sejarah dimana Kementerian Luar Negeri Indonesia yang di wakili oleh Menteri Luar Negeri Sugiono, menyampaikan pernyataan resmi terkait isu-isu internasional yang berkecamuk sejak 5 tahun belakangan ini.
Menteri Luar Negeri Sugiono menilai, tatanan dunia saat ini berada dalam kondisi yang semakin rapuh. Menurut Sugiono, hukum internasional yang selama ini menjadi penopang stabilitas kerap disalahgunakan melalui pendekatan a la carte atau dipilih sesuai kepentingan sendiri. Ketika aturan yang telah disepakati dilanggar tanpa konsekuensi, yang runtuh bukan hanya satu ketentuan, melainkan kepercayaan terhadap aturan dan keseluruhan tatanan internasional. “Di saat yang sama, dunia menyaksikan kembalinya fenomena ‘might makes right’ atau ‘siapa kuat, dia menang’,” kata dia.
Menurut dia, standar ganda yang dipraktikkan secara terbuka telah mengikis kepercayaan antarnegara. Pada saat bersamaan, mekanisme tata kelola global kian tertinggal dari realitas geopolitik yang berkembang cepat, bahkan sejumlah negara kunci justru menarik diri dari tanggung jawab global. Sugiono mengingatkan, situasi ini memiliki kemiripan dengan kondisi menjelang runtuhnya Liga Bangsa-Bangsa yang berujung pada Perang Dunia ke-2.
Sumber: https://nasional.kompas.com/read/2026/01/15/05302601/pidato-awal-tahun-menlu-soroti-dunia-yang-rapuh-hingga-nervous-di-hadapan.
Bila pembaca masih bingung ada apa dengan dunia ini, mungkin bisa saya sampaikan beberapa hal yang muncul di berbagai media pemberitaan. Kita bisa mulai paska pandemi global yang juga menimpa Indonesia ( Covid 19) yang diawali oleh Perang Rusia-Ukraina pada tahun 2022 terkait wilayah atau teritori. Lanjut memanas ketika tiba-tiba milisi Palestina menembakkan ribuan roket ke Israel pada tahun 2023. Padahal sebab-sebab penembakan roket ini adalah adanya kebijakan penggusuran warga Palestina di Sheikh Jarrah, Yerusalem, pada Mei 2021. Namun, konflik yang dimulai pada Oktober 2023 berkembang menjadi perang yang jauh lebih intens dan berkepanjangan hingga saat ini dengan dalih mencari pejuang Palestina bersenjata. Israel tidak saja mengerahkan kekuatan militer udara, tapi juga darat dalam rangka menghancurkan semua bangunan vital pemerintahan dan bangunan sosial medis yang dibutuhkan rakyat Palestina.
Tahun 2024 diramaikan dengan Salah satu konflik yang jelas serius selain perang di Ukraina dan Palestina, yaitu di Sudan. Pertempuran antara tentara Sudan (Angkatan Bersenjata Sudan, SAF) dan Pasukan Dukungan Cepat (RSF) paramiliter menyebabkan krisis kemanusiaan yang sangat besar. Pertempuran pertama kali terjadi di ibu kota Khartoum dan dengan cepat menyebar ke seluruh negeri. Lebih dari 18.000 orang telah kehilangan nyawa dan lebih dari 33.000 lainnya terluka akibat pertempuran tersebut. Saat ini, ini juga merupakan krisis pengungsian terbesar di dunia. Hingga 12 juta orang harus meninggalkan rumah mereka, sebagian besar – lebih dari 10 juta orang – tetap berada di Sudan. Ini termasuk 4,6 juta anak-anak, menjadikan Sudan sebagai negara dengan jumlah anak-anak terlantar tertinggi di dunia. Konflik tersebut telah menutup ribuan sekolah dan menyebabkan 19 juta anak tidak mendapatkan pendidikan. 24,8 juta orang membutuhkan bantuan kemanusiaan, setengah dari hampir 49 juta penduduk negara tersebut. Kebutuhan akan bantuan telah meroket dari 15,8 juta orang pada awal konflik pada bulan April 2023. Organisasi hak asasi manusia memperingatkan risiko genosida di wilayah Darfur Barat, karena pembunuhan massal dan pemindahan paksa penduduk. Kekerasan dari Sudan dapat menyebar ke luar perbatasannya ke negara-negara tetangga seperti Mesir, Libya, Chad, Republik Afrika Tengah, Ethiopia, Eritrea, dan Sudan Selatan, yang sudah menghadapi situasi politik yang tidak stabil atau telah mengalami perang saudara yang hebat.
Sumber :https://international.sindonews.com/read/1506917/43/5-perang-yang-berkecamuk-selama-2024-1734905576
